Sekilas Gerakan Nasional Cinta Museum Melalui Tahun Kunjung Museum 2010


download 39.39 Kb.
jenengSekilas Gerakan Nasional Cinta Museum Melalui Tahun Kunjung Museum 2010
KoleksiDokumen
e.kabeh-ngerti.com > Astronomi > Dokumen
Sekilas Gerakan Nasional Cinta Museum Melalui Tahun Kunjung Museum 2010

Latar Belakang

Museum merupakan sarana untuk mengembangkan budaya dan peradaban manusia. Dengan kata lain, museum tidak hanya bergerak di sektor budaya, melainkan dapat bergerak di sektor ekonomi, politik, sosial, dll. Di samping itu, museum merupakan wahana yang memiliki peranan strategis terhadap penguatan identitas masyarakat termasuk masyarakat sekitarnya. Para ahli kebudayaan meletakkan museum sebagai bagian dari pranata sosial dan sebagai wahana untuk memberikan gambaran dan mendidik perkembangan alam dan budaya manusia kepada komunitas dan publik.

Tiga pilar utama permuseuman di Indonesia yaitu: 1) mencerdaskan kehidupan bangsa; 2) kepribadian bangsa; 3) ketahanan nasional dan wawasan nusantara. Ketiga pilar ini merupakan landasan kegiatan operasional museum yang dibutuhkan di era globalisasi ini. Pada saat masyarakat mulai kehilangan orientasi akar budaya atau jati dirinya, maka museum dapat mempengaruhi dan memberi inspirasi tentang hal-hal penting yang harus diketahui dari masa lalu untuk menuju ke masa depan. Oleh karena itu untuk menempatkan museum pada posisi sebenarnya yang strategis, diperlukan gerakan bersama penguatan pemahaman, apresiasi dan kepedulian akan identitas dan perkembangan budaya bangsa yang harus terbangun pada tataran semua komponen masyarakat bangsa Indonesia baik dalam skala lokal, regional maupun nasional. Gerakan bersama tersebut dinamakan Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM).

Gerakan Nasional Cinta Museum adalah upaya penggalangan kebersamaan antar pemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa. Gerakan ini bertujuan untuk membenahi peran dan posisi museum yang difokuskan pada aspek internal maupun eksternal. Aspek internal lebih kepada revitalisasi fungsi museum dalam rangka penguatan pencitraan melalui pendekatan konsep manajemen yang terkait dengan fisik dan non fisik. Aspek eksternal lebih kepada konsep kemasan program yaitu menggunakan bentuk sosialisasi dan kampanye pada masyarakat sebagai bagian dari stakeholder. Salah satu programnya adalah Tahun Kunjung Museum 2010 yang dicanangkan pada tanggal 30 Desember 2009 oleh Bapak Ir. Jero Wacik, SE selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Tahun Kunjung Museum 2010 merupakan sebuah momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum. Maka dapat dikatakan bahwa Tahun Kunjung Museum ini adalah upaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang didasarkan pada pemikiran bahwa museum merupakan bagian dari pranata sosial yang memiliki tanggung jawab mencerdaskan bangsa, menggalang persatuan dan kesatuan, memberikan layanan kepada masyarakat, melestarikan aset bangsa sebagai sumber penguatan pemahaman, apresiasi, dan kepedulian pada identitas bangsa. Hal ini untuk memperkuat posisi (reposisi) museum sebagai jendela budaya dan bagian dari pranata kehidupan sosial budaya Bangsa Indonesia.

Gerakan Nasional Cinta Museum ini akan dilaksanakan secara bertahap selama lima tahun dalam rangka menggalang kebersamaan antar pemangku dan pemilik kepentingan (share dan stakeholder) untuk memperkuat fungsi museum pada posisi yang dicita-citakan guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa. Pencapaian fungsionalisasi museum tersebut yang kemudian disebut sebagai Gerakan Nasional Cinta Museum.

Gerakan Nasional Cinta Museum adalah upaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengembangkan museum-museum di Indonesia agar siap bersaing. Mari kita jadikan Gerakan Nasional ini sebagai momentum kebangkitan museum di Indonesia yang diawali dengan Tahun Kunjung Museum 2010.

Tujuan

  1. Terjadinya peningkatan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap nilai penting budaya bangsa

  2. Semakin kuatnya kepedulian dan peranserta pemangku kepentingan dalam pengembangan museum

  3. Terwujudnya museum sebagai media belajar dan kesenangan yang dinamis dan atraktif bagi pengunjung

  4. Terwujudnya museum sebagai kebanggaan publik

  5. Terwujudnya kualitas pelayanan museum

  6. Peningkatan jumlah kunjungan ke museum

Sasaran

  1. Menciptakan peran museum sebagai bagian dari pranata kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya bangsa

  2. Mewujudkan peningkatan kuantitas dan kualitas kunjungan ke museum-museum seluruh Indonesia

  3. Mewujudkan landasan yang kokoh bagi masyarakat untuk meningkatkan apresiasi kesejarahan dan kebudayaan dalam upaya memperkuat jatidiri bangsa

  4. Menciptakan kerja sama yang berimbang dan saling menguntungkan antara museum dengan pemangku kepentingan

  5. Membentuk rumusan kebijakan-kebijakan terkait dengan penyelenggaraan museum yang tidak saja menekankan kepada kepentingan ideologis dan kepentingan akademis, tetapi juga pada kepentingan lain dalam pemanfaatan museum

  6. Terbentuknya sinergisitas dari para pemangku kepentingan khususnya di bidang pariwisata untuk menempatkan museum sebagai lembaga yang memiliki daya tarik wisata budaya untuk dikunjungi

Strategi Program

Strategi mereposisi museum dalam menangkap peluang ke depan adalah:

  1. Meningkatkan keseimbangan antara kompleksitas fungsi museum yang diemban dengan sistem dan mekanisme pengelolaan yang profesional

  2. Mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengelola data dan informasi koleksi, kegiatan museum, mempromosikan atau kampanye/sosialisasi museum sebagai tempat yang atraktif dan memiliki daya tarik untuk dikunjungi

  3. Meningkatkan inovasi sistem peragaan koleksi museum yang ditata secara modern tanpa mengabaikan peran pendidikannya, misalnya melalui sentuhan teknologi komputer, presentasi audiovisual, serta pajangan video secara interaktif untuk lebih menarik dan lebih mendidik

  4. Museum sebagai jendela budaya harus lebih dikembangkan sebagai tempat pertemuan masyarakat atau komunitas yang nyaman, menyenangkan, akomodatif, dan lengkap

  5. Mengoptimalkan kreativitas program-program, aktivitas dan promosi kegiatan museum yang menarik, lebih mendidik sekaligus menghibur, yang dapat menggugah emosi atau imajinasi pengunjung untuk lebih tertarik, mengetahui, dan mengapresiasi pengalaman yang diperoleh selama berkunjung di museum sebagai bagian dari kehidupan budayanya

  6. Memperkuat data dan informasi terkait dengan koleksi, aktivitas dan promosi kegiatan museum yang dapat diakses dengan mudah oleh para pemangku kepentingan khususnya masyarakat dan pengunjung

  7. Meningkatkan kenyamanan dan kepuasan bagi para pengunjung terhadap kualitas dan kelengkapan fasilitas, sarana pendukung dan layanan yang disediakan oleh museum

  8. Mengintegrasikan fungsi museum dengan sistem pendidikan nasional yang ada, khususnya pada tingkat daerah (provinsi dan kabupaten) yang tidak memiliki museum

  9. Memperkuat jaringan kerja museum sebagai lembaga nonprofit


Sejarah Museum

Pengertian tentang museum dari zaman ke zaman selalu berubah. Hal ini disebabkan museum senantiasa mengalami perubahan tugas dan kewajibannya. Museum merupakan suatu gejala sosial atau kultural dan mengikuti sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang menggunakan museum itu sebagai prasarana sosial atau kebudayaan.

Museum berakar dari kata Latin museion, yaitu kuil untuk sembilan dewi Muse, anak-anak Dewa Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur. Dalam perkembangannya museion menjadi tempat kerja ahli-ahli pikir zaman Yunani kuna, seperti Pythagoras dan Plato. Mereka menganggap museion adalah tempat penyelidikan dan pendidikan filsafat, sebagai ruang lingkup ilmu dan kesenian. Dengan kata lain tempat pembaktian diri terhadap ke sembilan Dewi Muse tadi. Museum yang tertua sebagai pusat ilmu dan kesenian terdapat di Iskandarsyah.

Lama-kelamaan gedung museum tersebut, yang pada mulanya tempat pengumpulan benda-benda dan alat-alat yang diperlukan bagi penyelidikan ilmu dan kesenian, berubah menjadi tempat mengumpulkan benda-benda yang dianggap aneh. Perkembangan ini meningkat pada abad pertengahan. Kala itu yang disebut museum adalah tempat benda-benda pribadi milik pangeran, bangsawan, para pencipta seni dan budaya, serta para pencipta ilmu pengetahuan. Kumpulan benda (koleksi) yang ada mencerminkan minat dan perhatian khusus pemiliknya.

Benda-benda hasil seni rupa ditambah benda-benda dari luar Eropa merupakan modal yang kelak menjadi dasar pertumbuhan museum-museum besar di Eropa. “Museum” ini jarang dibuka untuk masyarakat umum karena koleksinya menjadi ajang prestise dari pemiliknya dan biasanya hanya diperlihatkan kepada para kerabat atau orang-orang dekat. Museum juga pernah diartikan sebagai kumpulan ilmu pengetahuan dalam karya tulis seorang sarjana. Ini terjadi di zaman ensiklopedis yaitu zaman sesudah Renaissance di Eropa Barat, ditandai oleh kegiatan orang-orang untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan mereka tentang manusia, berbagai jenis flora maupun fauna serta tentang bumi dan jagat raya di sekitarnya. Gejala berdirinya museum tampak pada akhir abad ke-18 seiring dengan perkembangan pengetahuan di Eropa. Negeri Belanda yang merupakan bagian dari Eropa dalam hal ini juga tidak ketinggalan dalam upaya mendirikan museum.

Perkembangan museum di Belanda sangat mempengaruhi perkembangan museum di Indonesia. Diawali oleh seorang pegawai VOC yang bernama G.E. Rumphius yang pada abad ke-17 telah memanfaatkan waktunya untuk menulis tentang Ambonsche Landbeschrijving yang antara lain memberikan gambaran tentang sejarah kesultanan Maluku, di samping penulisan tentang keberadaan kepulauan dan kependudukan. Memasuki abad ke-18 perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan, baik pada masa VOC maupun Hindia-Belanda, makin jelas. Pada 24 April 1778 berdiri Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga tersebut berstatus setengah resmi, dipimpin oleh dewan direksi. Pasal 3 dan 19 Statuten pendirian lembaga tersebut menyebutkan bahwa salah satu tugasnya adalah memelihara museum yang meliputi: pembukuan (boekreij); himpunan etnografis; himpunan kepurbakalaan; himpunan prehistori; himpunan keramik; himpunan muzikologis; himpunan numismatik, pening dan cap-cap; serta naskah-naskah (handschriften), termasuk perpustakaan.

Lembaga tersebut mempunyai kedudukan penting bukan saja sebagai perkumpulan ilmiah, tetapi juga karena para anggota pengurusnya terdiri dari tokoh-tokoh penting dari lingkungan pemerintahan, perbankan dan perdagangan. Yang menarik dalam pasal 20 Statuten menyatakan bahwa benda yang telah menjadi himpunan museum atau Genootschap tidak boleh dipinjamkan dengan cara apapun kepada pihak ketiga dan anggota-anggota atau bukan anggota untuk dipakai atau disimpan, kecuali mengenai perbukuan dan himpunan naskah-naskah (handschiften) sepanjang peraturan membolehkan.

Pada waktu Inggris mengambil alih kekuasan dari Belanda, Raffles sendiri yang langsung mengepalai Batavia Society of Arts and Sciences. Kegiatan perkumpulan itu tidak pernah berhenti, bahkan Raffles memberi tempat yang dekat dengan istana Gubernur Jendral yaitu di sebelah Harmoni (Jl. Majapahit No. 3 sekarang).

Selama kolonial Inggris nama lembaga diubah menjadi Literary Society. Namun ketika Belanda berkuasa kembali, diganti pada nama semula, Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Watenschappen dan memusatkan perhatian pada ilmu kebudayaan, terutama ilmu bahasa, ilmu sosial, ilmu bangsa-bangsa, ilmu purbakala, dan ilmu sejarah. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam mendorong berdirinya lembaga-lembaga lain. Di Batavia anggota lembaga bertambah terus, perhatian di bidang kebudayaan berkembang dan koleksi meningkat jumlahnya, sehingga gedung di Jl. Majapahit menjadi sempit. Pemerintah kolonial Belanda membangun gedung baru di Jl. Merdeka Barat No. 12 pada 1862. Karena lembaga tersebut sangat berjasa dalam penelitian ilmu pengetahuan, maka pemerintah Belanda memberi gelar “Koninklijk Bataviaasche Genootschap Van Kunsten en Watenschappen”. Lembaga yang menempati gedung baru tersebut telah berbentuk museum kebudayaan yang besar dengan perpustakaan yang lengkap (sekarang Museum Nasional).

Sejak pendirian Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen untuk pengisian koleksi museumnya telah diprogramkan antara lain berasal dari koleksi benda-benda bersejarah dan kepurbakalaan baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat. Semangat itu telah mendorong untuk melakukan upaya pemeliharaan, penyelamatan, pengenalan bahkan penelitian terhadap peninggalan sejarah dan purbakala. Kehidupan kelembagaan tersebut sampai masa Pergerakan Nasional masih aktif bahkan setelah Perang Dunia I. Masyarakat setempat didukung Pemerintah Hindia Belanda menaruh perhatian terhadap pendirian museum di beberapa daerah di samping yang sudah berdiri di Batavia, seperti Lembaga Kebun Raya Bogor yang terus berkembang di Bogor. Von Koenigswald mendirikan Museum Zoologi di Bogor pada 1894. Lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang bernama Radyapustaka (sekarang Museum Radyapustaka) didirikan di Solo pada 28 Oktober 1890, Museum Geologi didirikan di Bandung pada 16 Mei 1929, lembaga bernama Yava Instituut didirikan di Yogyakarta pada 1919 dan dalam perkembangannya pada 1935 menjadi Museum Sonobudoyo. Mangkunegoro VII di Solo mendirikan Museum Mangkunegoro pada 1918. Ir. H. Maclaine Pont mengumpulkan benda purbakala di suatu bangunan yang sekarang dikenal dengan Museum Purbakala Trowulan pada 1920. Pemerintah kolonial Belanda mendirikan Museum Herbarium di Bogor pada 1941.

Di luar Pulau Jawa, atas prakarsa Dr.W.F.Y. Kroom (asisten residen Bali) dengan raja-raja, seniman dan pemuka masyarakat, didirikan suatu perkumpulan yang dilengkapi dengan museum yang dimulai pada 1915 dan diresmikan sebagai Museum Bali pada 8 Desember 1932. Museum Rumah Adat Aceh didirikan di Nanggroe Aceh Darussalam pada 1915, Museum Rumah Adat Baanjuang didirikan di Bukittinggi pada 1933, Museum Simalungun didirikan di Sumatera Utara pada 1938 atas prakarsa raja Simalungun.

Sesudah kemerdekaan Indonesia 1945 keberadaan museum diabadikan pada pembangunan bangsa Indonesia. Para ahli bangsa Belanda yang aktif di museum dan lembaga-lembaga yang berdiri sebelum 1945, masih diizinkan tinggal di Indonesia dan terus menjalankan tugasnya. Namun di samping para ahli bangsa Belanda, banyak juga ahli bangsa Indonesia yang menggeluti permuseuman yang berdiri sebelum 1945 dengan kemampuan yang tidak kalah dengan bangsa Belanda.

Memburuknya hubungan Belanda dan Indonesia akibat sengketa Papua Barat mengakibatkan orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia, termasuk orang-orang pendukung lembaga tersebut. Sejak itu terlihat proses Indonesianisasi terhadap berbagai hal yang berbau kolonial, termasuk pada 29 Februari 1950 Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang diganti menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). LKI membawahkan dua instansi, yaitu museum dan perpustakaan. Pada 1962 LKI menyerahkan museum dan perpustakaan kepada pemerintah, kemudian menjadi Museum Pusat beserta perpustakaannya. Periode 1962-1967 merupakan masa sulit bagi upaya untuk perencanaan mendirikan Museum Nasional dari sudut profesionalitas, karena dukungan keuangan dari perusahaan Belanda sudah tidak ada lagi. Di tengah kesulitan tersebut, pada 1957 pemerintah membentuk bagian Urusan Museum. Urusan Museum diganti menjadi Lembaga Urusan Museum-Museum Nasional pada 1964, dan diubah menjadi Direktorat Museum pada 1966. Pada 1975, Direktorat Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman.

Pada 17 September 1962 LKI dibubarkan, Museum diserahkan pada pemerintah Indonesia dengan nama Museum Pusat di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Museum Pusat diganti namanya menjadi Museum Nasional pada 28 Mei 1979.

Penyerahan museum ke pemerintah pusat diikuti oleh museum-museum lainnya. Yayasan Museum Bali menyerahkan museum ke pemerintah pusat pada 5 Januari 1966 dan langsung di bawah pengawasan Direktorat Museum. Begitu pula dengan Museum Zoologi, Museum Herbarium, dan museum lainnya di luar Pulau Jawa mulai diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sejak museum-museum diserahkan ke pemerintah pusat, museum semakin berkembang. Bahkan museum baru pun bermunculan, baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh yayasan-yayasan swasta.

Perubahan politik akibat gerakan reformasi yang dipelopori oleh para mahasiswa pada 1998, telah mengubah tata negara Republik Indonesia. Perubahan ini memberikan dampak terhadap permuseuman di Indonesia. Direktorat Permuseuman diubah menjadi Direktorat Sejarah dan Museum di bawah Departemen Pendidikan Nasional pada 2000. Pada 2001, Direktorat Sejarah dan Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman. Susunan organisasi diubah menjadi Direktorat Purbakala dan Permuseuman di bawah Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata pada 2002. Direktorat Purbakala dan Permuseuman diubah menjadi Asdep Purbakala dan Permuseuman pada 2004. Akhirnya pada 2005, dibentuk kembali Direktorat Museum di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. (Tim Direktorat Museum)

Rumusan

HASIL RUMUSAN PERTEMUAN NASIONAL MUSEUM SE-INDONESIA 2010

Setelah memperhatikan sambutan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat dan Arahan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, serta mencermati paparan para nara sumber yang terdiri dari:

  1. Peranan museum dalam mencerdaskan bangsa, kepribadian bangsa dan ketahanan nasional serta wawasan nusantara oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra

  2. Pencitraan dan pelayanan museum oleh Dra. Triesna Wacik

  3. Sosialisasi tentang norma standar prosedur dan kriteria bidang permuseuman oleh I Made Suandi, M.Soc

  4. Sosialisasi sarana publik yang baik di museum oleh Naning Adiwoso

  5. Revitalisasi museum dalam perencanaan fisik museum oleh Drs. Ade Garnandi

  6. Marketing Komunikasi dalam upaya revitalisasi museum oleh M. Ridwan Abdulroni Khosin, SE

maka telah dihasilkan rumusan sebagai berikut:

Revitalisasi Museum: Aspek Fisik
Membangun Museum Baru
- Masterplan – Roadmap – studi kelayakan
- Pengadaan/pembebasan tanah/status tanah/IMB
- Rencana Anggaran Biaya
Persyaratan lainnya sesuai dengan Kepmen PM. 45/2009 Bab III, Pasal 7 ayat (4)

REVITALISASI MUSEUM
Fasilitas Utama
- Ruang pamer tetap dan temporer
- Ruang administrasi ketatahusahaan
- Auditorium
- Toilet
- Fasilitas untuk Lansia, cacat, dan Balita
- Ruang Medis (PPPK)
- Website/internet

Fasilitas Pendukung Luar Gedung
- Parkir
- Taman
- Perpustakaan
- Souvenir shop/café
- Pos satpam
- Panggung terbuka
- Genset
- Drainase/pompa/PAM
- Rumah Dinas
- Guest House
- Kendaraan Operasional
- Sarana ibadah
- Pagar pengaman

Fasilitas Pendukung dalam Gedung
- Ruang control security
- Peringatan dini darurat
- Emergency exit door
- Locker room
- CCTV
- Pengatur suhu/AC
- Alat komunikasi (HT, Airphone, sound system)
- Hotspot

Revitalisasi Museum: Aspek Manajemen
I. Manajemen SDM
1. SOP
o SDM
? Kualitas
? kuantitas
o standar kompetensi
2. Rekruitmen
3. Tunjangan jabatan fungsional (rumenerasi berbasis kinerja)
4. Penerapan reward

II. Manajemen Koleksi
1. SOP
o Pengadaan koleksi (beli, hibah, pinjaman, barter)
o Registrasi, inventarisasi, dokumentasi database, katalogisasi
o Perawatan (konservasi/preservasi, restorasi)
o Pengamanan dan storage
o Penelitian dan pengkajian
o Preparasi, penyajian, dan labeling

III. Manajemen Pelayanan
SOP
o Technical guide
o Program layanan publik
o Pelayanan informasi (booklet, leaflet, dll)
o Pelayanan khusus
? Penyandang cacat, lansia
o Tamu negara

IV. Manajemen Kuangan
o Sumber dana (APBN, APBD, PNBP, donatur, dll)
o Penyusunan perencanaan anggaran (Renstra, Renja, RAB, dll)
o Pembuatan laporan dan evaluasi

V. Manajemen Marketing
o Publikasi (brosur, leaflet, buku, baliho, RRI/TV)
o Destinasi wisata
o Promosi program-program museum

VI. Manajemen Program
o Survei minat pengunjung (research)
o Membuat program teknis
o Menyusun program sesuai kebutuhan museum dan pengunjung

Revitalisasi Museum Aspek Kebijakan
I. Kelembagaan
o Nomenklatur: status organisasi dan kelembagaan belum sama
o Status kelembagaan museum pemerintah dan swasta ditingkatkan menjadi SKPD

II. Regulasi
o Perlu penetapan BCB dan bangunan museum yang menjadi BCB
o Perlu penetapan standarisasi dan akreditasi museum
o Perlu penetapan kompensasi pajak terhadap penghasilan museum
o Juklak-juknis pendirian museum
o NSPK Museum diselaraskan dengan ketentuan internasional
o Perlu sosialisasi standar dan akreditasi museum terhadap pemangku kebijakan

III. Kerjasama
o Antarinstansi
o Swasta
o Luar negeri

IV. SDM
o Rekruitmen tenaga permuseuman disesuaikan dengan minat dan keahlian
o Struktur organisasi museum terdiri dari struktural dan fungsional
o Peningkatan SDM permuseuman, pemerintah dan swasta harus jelas

V. Dana
o Sumber dana pengelolaan museum APBN dan APBD dan sumber lainnya harus memadai

Dirumuskan di Hotel Grand Legi, Mataram, Lombok
pada tanggal 31 Maret 2010

Kelompok Perumus

Revitalisasi Museum

PERNYATAAN KOMITMEN MENDUKUNG REVITALISASI MUSEUM INDONESIA

MEMPERHATIKAN PAPARAN DAN DISKUSI PERTEMUAN NASIONAL MUSEUM SE-INDONESIA DI MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT, TANGGAL 29 MARET SAMPAI DENGAN 1 APRIL 2010, DENGAN INI KAMI MENYATAKAN:

MENDUKUNG REVITALISASI MUSEUM INDONESIA

REVITALISASI MUSEUM ADALAH UPAYA MEWUJUDKAN KESADARAN UNTUK MENEMPATKAN KEMBALI MAKNA MUSEUM DALAM MENCAPAI 3 (TIGA) PILAR KEBIJAKAN PERMUSEUMAN INDONESIA, YAITU

  1. MENCERDASKAN BANGSA

  2. MEMPERTEGUH KEPRIBADIAN BANGSA

  3. MEMPERKOKOH KETAHANAN NASIONAL DAN WAWASAN NUSANTARA

BIDANG-BIDANG REVITALISASI MUSEUM MELIPUTI:
1. FISIK
2. MANAJEMEN
3. PROGRAM
4. JEJARING
5. PENCITRAAN
6. KEBIJAKAN

HASIL PERTEMUAN NASIONAL MUSEUM SE-INDONESIA BESERTA LAMPIRANNYA MERUPAKAN SATU KESATUAN YANG TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DARI PERNYATAAN INI.

MATARAM, 1 APRIL 2010
PESERTA PERTEMUAN NASIONAL SE-INDONESIA
TAHUN 2010

Share ing jaringan sosial


Similar:

Sistem Ekonomi Kerakyatan Melalui Gerakan Koperasi di Indonesia

Buku Panduan Hibah Kompetitif Penelitian Strategis Nasional ini merupakan...

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi...

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang...

Workshop, lokakarya, seminar mengenai perubahan kurikulum akuntansi...

Bab ini akan membahas tentang Latar Belakang Hukum Perlindungan Konsumen,...

Sekilas Tentang Pendidikan di itb

Penyajian berita bertema pso merupakan salah satu konsekuensi dari...

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan...

Draft/10, 12 Februari 2010, sb

Ekonomi


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
e.kabeh-ngerti.com
.. Home