Kondisi ekonomi setiap negara berbeda-beda, maju atau tidaknya ekonomi dalam suatu negara tergantung kemampuan negara tersebut mengelola sektor keuangan dan


download 215.28 Kb.
jenengKondisi ekonomi setiap negara berbeda-beda, maju atau tidaknya ekonomi dalam suatu negara tergantung kemampuan negara tersebut mengelola sektor keuangan dan
Kaca1/2
KoleksiDokumen
e.kabeh-ngerti.com > Ekonomi > Dokumen
  1   2
BAB I

PENDAHULUAN


  1. Latar belakang

Kondisi ekonomi setiap negara berbeda-beda, maju atau tidaknya ekonomi dalam suatu negara tergantung kemampuan negara tersebut mengelola sektor keuangan dan sektor riil. Kedua sektor inilah yang menjadi perhatian utama dalam praktik ekonomi sebuah negara, namun kenyataannya masih banyak negara-negara di dunia yang lebih mengembangkan sektor keuangannya daripada sektor riilnya.

Krisis ekonomi di Indonesia sebenarnya terjadi lebih dari satu kali, yaitu sekitar tahun 1960an, tahun 1997 s.d 1998, dan tahun 2008. Namun penulis akan lebih terkonsentrasi ke krisis moneter tahun 1997 s.d 1998 yang berujung pada krisis ekonomi tahun. Krisis ekonomi tahun 1997 s.d 1998 merupakan krisis yang paling parah yang pernah dialami Indonesia, bahkan karena krisis tersebut rezim Soeharto tumbang karena dinilai tidak mampu mengatasi permasalahan yang sedang terjadi pada saat itu.


  1. Rumusan masalah

Rumusan masalah makalah ini yaitu :

  1. Apa penyebab krisis ekonomi tahun 1997 s.d 1998 ?

  2. Bagaimana dampak dari krisis ekonomi tahun 1997 s.d. 1998 ?

  3. Apa upaya pemerintah dalam menangani krisis ekonomi tahun 1997 s.d 1998 ?

  1. Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu :

  1. Untuk mengatahui apa sebab dan akibat dari krisis ekonomi tahun 1997 s.d 1998

  2. Untuk mengetahui bagaimana sikap pemerintah dalam menangani krisis ekonomi tahun 1997 s.d 1998



BAB II

PEMBAHASAN


  1. Krisis Ekonomi Indonesia Tahun 1997 s.d 1998

Krisis Asia 1997 sd. 1998 menyerang negara Thailand yang kemudian menyebar ke negara Malaysia, Korea dan Indonesia berawal ketika Thailand krisis yang disertai dengan melemahnya mata uang Bath. Indonesia diantara negara yang terkena dampak krisis Asia termasuk negara yang paling parah terkena dampak. Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia. Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Namun pada kenyataannya krisis yang melanda negara-negara Asia, juga berdampak pada Indonesia. Ketika krisis melanda Thailand, nilai baht terhadap dolar anjlok dan menyebabkan nilai dola Sejak saat itu, posisi mata uang Indonesia mulai tidak stabil. Padahal, pada saat itu hutang luar negeri Indonesia, baik swasta maupun pemerintah, sudah sangat besar. Tatanan perbankan nasional kacau dan cadangan devisa semakin menipis. Perusahaan yang tadinya banyak meminjam dolar (ketika nilai tukar rupiah kuat terhadap dolar), kini sibuk memburu atau membeli dolar untuk membayar bunga pinjaman mereka yang telah jatuh tempo, dan harus dibayar dengan dolar. Nilai rupiah pun terus merosot.



  1. Sebab Krisis Ekonomi Indonesia Tahun 1997 s.d 1998

Besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersama- sama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, sehingga l.k. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Sebab yang kedua adalah kelemahan pada sistim perbankan. Ada beberapa penyebab krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1997 s.d 1998, diantaranya sebagai berikut :

  1. Dianutnya sistem devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai, memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. Kondisi di atas dimungkinkan, karena Indonesia menganut rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel, sehingga membuka peluang yang sebesar- besarnya untuk orang bermain di pasar valas. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri, sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri.1

  2. Stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umumnya berjangka pendek yang telah menciptakan “ketidakstabilan”. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri dibidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri menghadapi besarnya serta persyaratan hutang swasta tersebut. Pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan terhadap hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar -benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Karena kreditur asing tentu bersemangat meminjamkan modalnya kepada perusahaan-perusahaan (swasta) di negara yang memiliki inflasi rendah, memiliki surplus anggaran, mempunyai tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan menjalankan sistem perdagangan terbuka.2

Utang Luar Negeri Indonesia

Tahun

Total Utang (Miliar Rupiah)

Rasio Utang Terhadap PDB (%)

1990

89.469

42,43

1991

91.607

36,65

1992

110.995

39,30

1993

123.658

37,50

1994

139.780

36,57

1995

140.010

30,80

1996

129.533

24,32

1997

154.563

24,62

1998

812.585

85,02

1999

1.091.799

99,28


Data diatas dari tahun 1990 sampai 1999 menunjukan bahwa rasio utang luar negeri terhadap PDB sangat besar, pantas saja terjadi ketidakseimbangan ekonomi yang mengakibatkan krisis.3

  1. Faktor utama yang menyebabkan krisis moneter tahun 1998 yaitu faktor politik. Pada tahun 1998 krisis ekonomi bercampur kepanikan politik luar biasa saat presiden Soeharto hendak tumbang. Begitu sulitnya merobohkan bangunan rezim Soeharto sehingga harus disertai pengorbanan besar berupa kekacauan yang mengakibatkan pemilik modal dan investor kabur dari Indonesia. Pelarian modal besar-besaran (flight for safety) karena kepanikan politik ini praktis lebih dahsyat daripada pelarian modal yang dipicu oleh pertimbangan ekonomi semata (flight for quality). Karena itu, rupiah merosot amat drastis dari level semula Rp 2.300 per dollar AS (pertengahan 1997) menjadi level terburuk Rp17.000 per dollar AS (Januari 1998).

  2. Banyaknya utang dalam valas, proyek jangka panjang yang dibiayai dengan utang jangka pendek, proyek berpenghasilan rupiah dibiayai valas, pengambilan kredit perbankan yang jauh melebihi nilai proyeknya, APBN defisit yang tidak efisien dan efektif, devisa hasil ekspor yang disimpan di luar negeri, perbankan yang kurang sehat, jumlah orang miskin dan pengangguran yang relatif masih besar, dan seterusnya.

  3. Semakin membesarnya cronycapitalism dan sistem politik yang otoriter dan sentralistik. Jika diartikan secara ekonomis teknis, krisis bisa disebut sebagai titik balik pertumbuhan ekonomi yang menjadi merosot. Dan penyebabnya jika ditinjau dari teori konjungtur, ada dua karakteristik krisis, yaitu krisis disebabkan tidak sepadannya kenaikan konsumsi ketimbang kenaikan kapasitas produksi atau underconsumption crisis, dan krisis disebabkan terlampau besarnya investasi yang dipicu modal asing karena tabungan nasional sudah lebih dari habis untuk berinvestasi. Krisis seperti ini disebut overinvestment, dan ini yang terjadi di Indonesia.

  4. Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. Terjadilah snowball effect, di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar. Orang-orang kaya Indonesia, baik pejabat pribumi dan etnis Cina, sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank, 1998: 1.4, 1.10). Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta, jiwa dan martabat mereka. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru.




  1. Dampak Krisis Ekonomi Indonesia Tahun 1997 s.d 1998

Ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1997 s.d 1998, diantaranya sebagai berikut :

  1. Krisis Produksi

Krisis produksi adalah termasuk tipe krisis ekonomi yang bersumber dari dalam negeri. Krisis tersebut bisa dalam bentuk penurunan produksi domestik secara mendadak dari sebuah (atau sejumlah) komoditas pertanian, misalnya, padi/beras.4

Provinsi

Jenis Tanaman

Tahun

Luas Panen(Ha)

Produktivitas(Ku/Ha)

Produksi(Ton)

Indonesia

Padi

1996

11550045.00

44.20

51048899.00

Tabel Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Padi Seluruh Provinsi Tahun 1996


Provinsi

Jenis Tanaman

Tahun

Luas Panen(Ha)

Produktivitas(Ku/Ha)

Produksi(Ton)

Indonesia

Padi

1997

11126396.00

44.34

49339086.00

Tabel Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Padi Seluruh Provinsi Tahun 1997


Provinsi

Jenis Tanaman

Tahun

Luas Panen(Ha)

Produktivitas(Ku/Ha)

Produksi(Ton)

Indonesia

Padi

1998

11730325.00

41.97

49236692.00

Tabel Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Padi Seluruh Provinsi Tahun 1998

Produksi Perkebunan Besar menurut Jenis Tanaman, Indonesia (Ton), 1995 -2012


Tahun

Karet Kering

Minyak Sawit

Biji Sawit

Coklat

Kopi

Teh

Kulit Kina

Gula Tebu 1)

Tembakau 1)

1995

341,00

2476,40

605,30

46,40

20,80

111,08

0,30

2104,70

9,90

1996

334,60

2569,50

626,60

46,80

26,50

132,00

0,40

2160,10

7,10

1997

330,50

4165,69

838,71

65,89

30,61

121,00

0,50

2187,24

7,80

1998

332,57

4585,85

917,17

60,93

28,53

132,68

0,40

1928,74

7,70

1999

293,66

4907,78

981,56

58,91

27,49

126,44

0,92

1801,40

5,80

2000

375,82

5094,86

1018,97

57,73

28,27

123,12

0,79

1780,13

6,31

2001

397,72

5598,44

1117,76

57,86

27,05

126,71

0,73

1824,58

5,47

2002

403,71

6195,61

1209,72

48,25

26,74

120,42

0,64

1901,33

5,34

2003

396,10

6923,51

1529,25

56,63

29,44

127,52

0,78

1991,61

5,23

2004

403,80

8479,26

1861,97

54,92

29,16

125,51

0,74

2051,64

2,68

2005

432,22

10119,06

2139,65

55,13

24,81

128,15

0,83

2241,74

4,00

2006

554,63

10961,76

2363,15

67,20

28,90

115,44

0,80

2307,00

4,20

2007

578,49

11437,99

2593,20

68,60

24,10

116,50

0,52

2623,80

3,10

2008

586,08

12477,75

2829,20

62,91

28,07

112,80

0,40

2668,43

2,61

2009

522,31

13872,60

3145,55

67,60

28,67

107,35

0,60

2333,89

4,10

2010

541,49

14038,15

3183,07

65,15

29,01

100,07

0,72

2288,74

3,37

2011

630,40

15198,05

3446,04

67,54

22,22

95,10

0,43

2244,15

2,37

2012

582,80

16817,80

3363,60

53,30

29,30

91,70

0,70

2592,60

2,38


Produksi perkebunan juga mengalami penururnan dari kurun waktu tahun 1995-2012. Pada tahun 1997-1998 terjadi penurunan produksi di hampir semua komoditas.5 Penurunan produksi tersebut berakibat langsung pada penurunan tingkat pendapatan riil dari para petani dan buruh tani padi.6 Di wilayah-wilayah (misalnya, provinsi-provinsi di Indonesia) di mana produksi padi merupakan sektor ekonomi kunci, tidak hanya dalam bentuk pangsa output di dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tetapi juga sebagai sumber terbesar bagi kesempatan kerja atau pendapatan masyarakat di wilayah-wilayah tersebut, jumlah rumah tangga yang mengalami penurunan pendapatan akan sangat banyak. Hal ini adalah dampak langsung dari krisis tersebut. Dari data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa produksi pertanian khususnya padi mengalami penururnan dari tahun 1996 s.d 1998.

Selanjutnya, apabila padi/beras selain dikonsumsi langsung juga digunakan sebagi bahan baku utama oleh sektor-sektor ekonomi lainnya, misalnya, industri makanan dan minuman, maka volume produksi, kesempata kerja dan pendapatan di sektor-sektor terkait juga akan mengalami penurunan.

Secara keseluruhan, tingkat kemiskinan di wilayah-wilayah tersebut akan mengalami peningkatan yang besar. Selanjutnya, jika pemerintah di sebuah provinsi yang mengalami penurunan produksi padi tidak melakukan impor padi untuk mengkompensasi kekurangan beras di pasar lokal akibat penurunan produksi tersebut, maka akan terjadi kelebihan permintaan terhadap padi di provinsi tersebut dan sesuai mekanisme pasar, harga beras di provinsi tersebut akan melonjak tinggi yang berakhir dengan laju inflasi yang tinggi.

Tingginya laju inflasi pada berikutnya akan memperburuk pendapatan riil masyarakat. Efek negatif lainnya, bahwa produksi padi yang berkurang dan tidak ada impor padi bisa menimbulkan suatu krisis pangan yang dapat berakhir pada kerusuhan-kerusuhan sosial dan bahkan krisis politik.



Krisis Produksi Domestik dan Dampaknya terhadap Kemiskinan

  1. Krisis Perbankan

Dampak langsung atau fase pertama dari efek krisis perbankan adalah kesempatan kerja dan pendapatan yang menurun di subsektor keuangan tersebut. Pada fase kedua, krisis perbankan merembet ke perusahaan-perusahaan yang sangat tergantung pada sektor perbankan dalam pembiayaan kegiatan-kegiatan produksi atau bisnis mereka. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak bisa lagi mendapatkan pinjaman dari perbankan karena subsektor keuangan tersebut sedang mengalami kekurangan dana atau bangkrut, atau perusahaan-perusahaan masih bisa mendapatkan kredit tetapi dengan tingkat suku bunga pinjaman (R) yang jauh lebih tinggi dibandingkan pada saat perbankan dalam keadaan normal.7

Kenaikan suku bunga itu disebabkan terutama oleh permintaan kredit dari dunia usaha yang besar. Selama periode krisis keuangan Asia (1997-1998), misalnya banyak perusahaan–perusahaan besar, khususnya konglomerat, di Indonesia terpaksa mengurangi kegiatan bisnis dan produksi mereka atau bahkan harus tutup karena salah satu penyebabnya adalah kekurangan dana pinjaman dari perbankan.

Akibat selanjutnya dari krisis keuangan yang dalami oleh perusahaan-perusahaan tersebut adalah terjadinya pemberhentian pekerja (PHK). Rumah tangga juga kena dampaknya. Ada dua macam dampak terhadap rumah tangga dan dua tipe kelompok rumah tangga yang terkena dampaknya.

Pertama, kelompok rumah tangga aya: tabungan mereka hilang karena bank-bank yang menyimpan uang mereka bangkrut. Kedua, kelompok rumah tangga non-kaya: pengeluaran-pengeluaran mereka terutama untuk barang-barang bukan kebutuhan pokok (seperti rumah, mobil, naik haji) menurun karena mereka tidak bisa lagi meminjam dari bank, atau masih tetap bisa mendapatkan kredit konsumen namun dengan tingkat R yang sangat tinggi yang membuat biaya pinjaman menjadi terlalu mahal. Akibat krisis ini, likuidasi beberapa bank tidak dapat dihindarkan karena banyak bank-bank yang bangkrut akibat penarikan dana oleh nasabah yang dilakukan secara terus-menerus akibat kepanikan yang merajalela. Bank Mandiri merupakan salah satu bank yang didirikan dari beberapa bank.

Krisis Perbankan dan Dampaknya Terhadap Kemiskinan


  1. Krisis Perdagangan

Dalam hal krisis-krisis ekonomi yang berasal dari sumber-sumber eksternal, ada dua jalur utama, yaitu perdagangan dan investasi dan arus modal.8 Di dalam jalur perdagangan itu sendiri ada dua sub jalur, yaitu ekspor dan impor (barang dan jasa). Dalam jalur ekspor, suatu krisis bagi negara eksportir bisa terjadi baik karena harga di pasar interasional dari komoditas yang diekspor turun secara drastis atau permintaan dunia terhadap komoditas tersebut menurun secara signifikan.

Sebagai contoh, harga dunia atau permintaan pasar global bagi ekspor-ekspor utama Indonesia dari komoditas-komoditas pertanian menurun, maka pendapatan petani dan buruh tani dari komoditas tersebut di dalam negeri juga merosot. Penururunan pendapatan petani dan buruh tani membuat permintaan konsumsi maupun permntaan perantara (antar sektor) di pedesaan berkurang, akhirnya pendapatan riil masyarakat perkapita menurun dan tingkat kemiskinan meningkat di pedesaan.Dalam ekspor jasa, suatu krisis bisa terjadi jika jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke dalam negeri menurun secara drastis, atau jumlah pengiriman uang ke Indonesia dari para TKI yang bekerja di luar negeri mengalami pengurangan secara signifikan.9

Krisis Harga/ Permintaan Ekspor dan Dampaknya terhadap Kemiskinan
Dalam hal impor suatu kenaikan harga dunia yang signifikan atau suatu penurunan secara tiba-tiba dan dalam jumlah yang besar dari persediaan dunia untuk suatu komoditas yang diperdagangkan di pasar global dapat menjadi suatu krisis ekonomi yang serius bagi negara-negara importir jika komoditas itu sangat krusial, misalnya kenaikan harga minyak mentah berakbat pada kenaikan harga-harga dari bahan bakar minyak, listrik, pupuk, dan juga biaya-biaya produksi dari sejumlah produk. Krisis minyak talah menyebabkan biaya energ dan biaya-biaya produksi di dalam negar-negara pengmpor minyak meningkat tajam yang berakhir dengan laju inflasi yang sangat tinggi di dunia.10




  1. Krisis Modal

Suatu pengurangan modal di dalam negeri dlam jumlah besar atau penghentian bantuan serta pinjaman luar negeri akan menjadi krisis ekonomi bagi banyak negara miskin di dunia. Proses mulai dari larinya modal ke luar negeri hinga menjadi sebah krisis ekonomi sangat sederhana: dana investasi di dalam negeri berkurang, investasi menurun, kegiatan atau volume produksi dan tingkat produktivitas menurun, pertumbuhan ekonomi merosot, jumlah angkatan kerja (penduduk dalam kategori usia 15 hinga 65 tahun) yang bisa bekerja berkurang, tingkat pendapatan riil menurun, dan pada akhirnya tingkat kemiskinan bertambah.11 Di sisi lain, suatu pelarian modal dalam jumlah besar akan menyebabkan depresiasi nilai tukar mata uang dari negara yang bersangkutan.



Krisis Modal dan Dampaknya terhadap Kemiskinan


  1. Krisis Nilai Tukar

Suatu perubahan kurs dari sebuah mata uang, misalnya rupiah terhadap Dollar AS dianggap krisis apabila kurs dari mata uang tersebut mengalami penurunan atau depresiasi yang sangat besar yang prosesnya mendadak atau berlangsung secara terus-menerus yang membentuk sebuah tren meningkat (rupiah per satu Dollar AS). Menurut teori konvensional mengenai perdagangan internasional, depresiasi nilai tukar dari suatu mata uang terhadap mata uang lain misalnya Dollar AS membuat daya saing harga dari produk-produk negara dari mata uang tersebut membaik, yang selanjutnya membuat volume ekspornya meningkat. Tentu teori ini didasarkan pada asumsi bahwa faktor-faktor lain yang mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung volume ekspor konstan tidak berubah.

Berikutnya, kenaikan volume ekspor menambah volume produksi dan meningkatkan jumlah kesempatan kerja di perusahaan-perusahaan eksportir. Namun demikian, peningkatan volume ekspor sebagai respon langsung terhadap harga jual yang semakin kompetitif di pasar dunia tentu sangat tergantung pada banyak hal di dalam negeri, terutama kapasitas produksi, ketersediaan bahan baku, SDM, modal, infrastruktur, dan input-input lainnya.

Di sisi impor, akibat kurs mata uang regional melemah, misalnya dalam Rupiah, dari Rp 2000 per satu Dollar AS menjadi Rp 10.000 per satu Dollar AS maka harga-harga dalam rupiah di pasar dalam negeri dari produk-produk impor akan naik, yang bahkan mengakibatkan meningkatnya laju inflasi di Indonesia. Misalnya, suatu produk impor harganya 10 Dollar AS. Dengan kurs rupiah, misalnya Rp 2.000 per satu Dollar AS, maka harga produk tersebut di Indonesia adalah Rp 20.000. Juka nilai rupiah melemah menjadi Rp 10.000 per satu Dollar AS, maka harga produk tersebut dalam rupiah menjadi Rp 100.000, walaupun harga aslinya dalam Dollar AS tetap tidak berubah.


Impor

Depresiasi nilai tukar, mata uang nasional

Ekspor
straight arrow connector 23 straight arrow connector 27 straight arrow connector 39 straight connector 43


straight arrow connector 28straight arrow connector 40

Impor

Impor konstan
straight arrow connector 19

Produksi
straight arrow connector 25 straight arrow connector 30 straight arrow connector 33


straight arrow connector 44

Produksi

Biaya Produksi

Kesempatan kerja/ pendapatan
straight arrow connector 18 straight arrow connector 26


straight arrow connector 32straight arrow connector 34elbow connector 46

Inflasi
straight arrow connector 17


straight arrow connector 37

Kesempatan kerja/ pendapatan
straight arrow connector 16
Kemiskinan?
straight arrow connector 36 straight arrow connector 38

Krisis Nilai Tukar dan Dampaknya terhadap Kemiskinan

Tabel Inflasi dan IHK INDONESIA Tahun 1998 - 2002 Menurut Bulan   


Bulan

Tahun 1998

Tahun 1999

Tahun 2000

Tahun 2001

Tahun 2002

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

Jan

119.85

6.88

204.54

2.97

205.12

1.32

222.10

0.33

254.12

1.99

Feb

135.14

12.76

207.12

1.26

205.27

0.07

224.04

0.87

257.93

1.50

Mar

142.15

5.18

206.75

-0.18

204.34

-0.45

226.04

0.89

257.87

-0.02

Apr

148.83

4.70

205.34

-0.68

205.48

0.56

227.07

0.46

257.26

-0.24

Mei

156.63

5.24

204.76

-0.28

207.21

0.84

229.63

1.13

259.31

0.80

Jun

163.89

4.64

204.07

-0.34

208.24

0.50

233.46

1.67

260.25

0.36

Jul

177.92

8.56

201.93

-1.05

210.91

1.28

238.42

2.12

262.38

0.82

Agt

153.51

4.48

200.05

-0.93

211.99

0.51

237.92

-0.21

263.13

0.29

Sep

196.23

3.75

198.68

-0.68

211.87

-0.06

239.44

0.64

264.53

0.53

Okt

155.70

-0.27

198.79

0.06

214.33

1.16

241.06

0.68

265.95

0.54

Nov

158.11

0.48

199.00

0.25

217.15

1.32

245.18

1.71

270.87

1.85

Des

198.64

1.42

202.45

1.73

221.37

1.94

249.15

1.62

274.13

1.20

Tahunan




77.63




2.01




9.35




12.55




10.03


Dari data di atas, inflasi yang terjadi akibat krisis tahun 1997 s.d 1998 mencapai 77.63%. tentunya hal ini berujung pada meningkatnya meningkatkatnya angka kemiskinan. Menurut Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan Indonesia dari tahun 1996 s.d 1998 meningkat tajam yaitu dari 22.5 juta orang menjadi 49.5 juta orang. Ini menunjukan betapa parahnya dampak krisis yang terjadi pada saat itu.12

  1   2

Share ing jaringan sosial


Similar:

Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan pertumbuhan...

Krisis ekonomi tahun 1997 yang melanda Indonesia dan negara-negara...

Menyebar pada negara-negara tetangganya termasuk Indonesia. Pembangunan...

Tata cara pengintegrasian laporan keuangan badan layanan umum dalam...

Abstrak Informasi adalah salah satu asset penting yang sangat berharga...

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah...

Pada era globalisasi terutama pada dunia bisnis, tenaga Ahli Madya...

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan suatu kondisi atau...

Jelaskan secara umum tentang ciri-ciri Negara dan Bangsa dalam Kesultanan Melayu Melaka

Pokok-pokok reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan normalisasi...

Ekonomi


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
e.kabeh-ngerti.com
.. Home