Sistem informasi akuntansi sistem perencanaan sumber daya perusahaan


download 120.64 Kb.
jenengSistem informasi akuntansi sistem perencanaan sumber daya perusahaan
Kaca1/3
KoleksiDokumen
e.kabeh-ngerti.com > Gambar > Dokumen
  1   2   3

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

SISTEM PERENCANAAN SUMBER DAYA PERUSAHAAN




Sub Pokok Bahasan :

  • Pengertian ERP

  • Konfigurasi Sistem ERP

  • Pergudangan Data



TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memahami sistem perencanaan sumber daya perusahaan.




TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa akan dapat:


  1. Memahami fungsionalitas umum dari elemen kunci dari sistem ERP.

  2. Memahami berbagai aspek dari konfigurasi ERP termasuk server, database, dari peng-gunaan dari perangkat lunak bolt-on.

  3. Memahami maksud dari gudang data (warehousing) sebagai suatu alat strategis dari me-ngenali topik yang berhubungan dengan desain, pemeliharaan, dari operasi dari gudang data.




METODE PEMBELAJARAN
  1. Kuliah Mimbar

  2. Tanya Jawab


3. Latihan




ALAT BANTU PEMBELAJARAN
  1. LCD/Overhead Projector


2. White Board dan Spidol




REFERENSI
  1. James A. Hall, 2007. Sistem Informasi Akuntansi, Edisi ke-4, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.


2. Nugroho Widjajanto, 2001. Sistem Informasi Akuntansi, Penerbit Erlangga.

MODUL 19

SISTEM PERENCANAAN SUMBER DAYA PERUSAHAAN

A. PENDAHULUAN

Kebanyakan organisasi-organisasi yang berukuran besar dan sedang memi-liki sistem informasi yang dirancang dan diprogram menurut pesanan (kebutuhan) mereka. Praktik ini menghasilkan lapisan-lapisan sistem yang berdiri sendiri dan di-rancang untuk memenuhi kebutuhan unik dari para pemakai spesifik.
Walaupun sistem-sistem ini melakukan pekerjaan mereka secara efisien, mereka tidak mendukung keputusan-keputusan strategis Pada tingkat perusahaan karena kurangnya integrasi yang diperlukan untuk transfer informasi lintas batas-batas organisasi.
Saat ini, trend sistem informasi adalah menuju implementasi sistem ber-orientasi-perusahaan dengan tingkat integratif tinggi. Sistem ini bukan paket-paket pesanan yang dirancang untuk organisasi tertentu. Karakteristik organisasi-organisasi yang beraneka ragam turut membentuk komponen-komponen perangkat lunak menjadi sebuah sistem perencanaan sumber claya perusahaan (enterprise resource planning, selanjutnya disingkat ERP) yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan bisnis mereka. lni berarti bahwa organisasi perlu mengubah cara mereka melakukan bisnis untuk dapat sepenuhnya memanfaatkan ERP.
Modul ini terdiri atas tiga bagian utama.

  • Bagian pertama menjelaskan ciri-ciri utama dari sebuah sistem ERP generik dengan membandingkan fungsi dan teknik penyimpanan data dari flat file tradisi-onal atau sistem database dari sebuah ERP.

  • Bagian kedua menjelaskan bermacam-macam konfigurasi ERP yang berkaitan dengan server, data. base, dan perangkat lunak bolt-on.

  • Bagian ketiga menjelaskan Penyimpanan data. Sebuah gudang data (data warehousing) merupakan sebuah database relasional atau multidimensional yang mendukung proses analitikal on-line (on-line analytical processing atau OLAP).



B. APAKAH ERP ITU ?

Sistem ERP diciptakan oleh Gartner Group adalah paket perangkat lunak modul berganda yang berkembang terutama sistem perencanaan sumber daya manufaktur tradisional (manufacturing resource planninr MRP II). Tujuan ERP adalah mengintegrasikan proses kunci dari organisasi seperti pemasukan pesanan, manu-fakturing, usaha pengadaan, utang dagan& daftar gaji, dan sumber daya manusia. Sistem komputer tunggal dapat melayani kebutuhan unik dari tiap area fungsional. Mendesain suatu sistem yang melayani setiap orang adalah memikul suatu bagian besar. Di bawah model tradisional setiap area fungsional atau departemen memiliki sistem komputernya sendiri yang dioptimasi pada cara di mana ia melakukan bisnis sehari-harinya. ERP menggabungkan semua ini ke dalar suatu sistem tunggal, yang terintegrasi yang mengakses Pada suatu database tunggal untuk me-mudahkan pembagian dari informasi dan untuk memperbaiki komunikasi di seluruh organisasi.
Gambar 11-1. Perusahaan ini menggunakan suatu arsitektur databas ter-tutup, yang serupa dalam konsep Pada model flat file dasar (basic flat file model). Di bawah pendekatan ini suatu sistem manajemen database digunakan untuk memberi-kan keuntungan teknologi minimal di alas sistem flat file. DBMS (database manage-ment system) adalah sedikit lebih daripada suatu sistem file privat tetapi berdaya guna. Sebagaimana dengan pendekatan flat file, data tetap milik dari aplikasi. Sebagaimana halnya dengan arsitektur flat file, ini adalah suatu tingkat tinggi dari kelebihan data dalam suatu lingkungan database tertutup.


Gambar 11-1. Sistem Informasi Tradisional


Ketika seorang pelanggan menempatkan suatu pesanan, mulailah suatu per-jalanan berdasarkan kertas ke seputar perusahaan di mana ini disesuaikan dan di-sesuaikan ulang ke dalam sistem dari berbagai departemen berbeda. Tugas ber-lebihan ini menyebabkan penundaan, kehilangan pesanan, dan meningkatkan ke-salahan pemasukan data. Selama melintasi berbagai sistem, status dari pesanan mungkin tidak dikenal pada titik manapun saat itu. Contoh, menanggapi pertanyaan seorang pelanggan, departemen pemasaran mungkin tidak dapat memeriksa ke dalam database produksi untuk menentukan apakah suatu pesanan telah dibuat dan dikirimkan. Sebagai gantinya, pelanggan yang frustrasi diberitahu ”Anda perlu untuk menelepon manufakturing.” Sama halnya dengan usaha pengadaan dari bahan mentah dari pemasok yang tidak dihubungkan dengan pesanan pelanggan sampai mereka mencapai tahap manufakturing. Ini menghasilkan penundaan, sebagaimana manufakturing menunggu kedatangan dari bahan yang dibutuhkan, atau dalam investasi yang berlebihan dalam persediaan untuk mencegah kehabisan persediaan.
Kekurangan dari komunikasi efektif antara sistem dalam model tradisional sering merupakan konsekuensi dari suatu proses desain sistem yang terfragmentasi. Setiap sistem cenderung untuk didesain sebagai suatu solusi pada masalah operasi-onal khusus daripada sebagai bagian dari strategi keseluruhan.
Sistem ERP mendukung suatu aliran informasi yang lancar dan tanpa keliman (seamless) sepanjang organisasi dengan menyediakan suatu lingkungan yang distan-dardisasi untuk proses bisnis suatu perusahaan dan suatu database operasional umum yang mendukung komunikasi. Pandangan umum ERP disajikan dalam Gambar 11-2. Data dalam database operasional dibuat modelnya, distrukturisasi, dan di-simpan sesuai dengan sifat data internal. Mereka tetap tidak bergantung pada setiap aplikasi khusus. Pembagian data ekstensif di antara pengguna terjadi melalui pandangan aplikasi-sensitif, yang menyajikan data dalam suatu cara yang memenuhi semua kebutuhan pengguna.

Aplikasi Utama ERP

Fungsionalitas ERP terdiri atas dua kelompok aplikasi umum: aplikasi inti dan aplikasi analisis bisnis.

  • Aplikasi inti

Aplikasi inti adalah aplikasi yang secara operasi mendukung aktivitas sehari-hari dari bisnis. Aplikasi inti khusus akan meliputi tetapi tidak terbatas pada penjualan dan distribusi, perencanaan bisnis, perencanaan produksi, kontrol shop floor, dan logistik. Aplikasi inti disebut juga aplikasi on-line transaction processing (OLTP). Gambar 11-2 mengilustrasikan fungsi ini yang diterapkan pada suatu perusahaan manufakturing.
Gambar 11-2. Sistem ERP



Fungsi penjualan dan distribusi menangani pemasukan pesanan dan pen-jadwalan pengiriman. lni termasuk memeriksa ketersediaan produk untuk me-mastikan pengiriman tepat waktu dan memverifikasi batas kredit pelanggan. Tidak seperti contoh sebelumnya, pesanan pelanggan dimasukkan ke dalam ERP hanya sekali. Karena semua pengguna mengakses suatu database umum, status dari suatu pesanan dapat ditentukan pada setiap titik. Kenyataannya, pelanggan mungkin dapat membuka Internet dan memeriksa status dari pesanan secara langsung. Integrasi semacam itu mengurangi aktivitas manual, menghemat waktu, dan mengurangi kesalahan manusia.
Perencanaan bisnis terdiri atas meramal permintaan, perencanaan produksi produk, dan pengiriman infqrmasi terinci yang menggambarkan urutan dan tahap dari proses produksi sebenarnya. Perencanaan kapasitas dan perencanaan pro-duksi dapat sang at rumit, karena itu beberapa ERP memberikan alat simulasi untuk membantu manajer memutuskan bagaimana cara menghindarkan keku-rangan dalam bahan baku, tenaga buruh, atau fasilitas pabrik. Begitu jadwal produksi induk lengkap, data memasuki modul MRP (Materials Requirements Planning-perencanaan kebutuhan bahan baku), yang memberikan tiga informasi kunci :

  • Suatu laporan pengecualian.

Laporan pengecualian mengidentifikasi situasi potensial seperti pengiriman terlambat yang akan mengakibatkan penjadwalan kembali produksi.

  • sebuah daftar kebutuhan bahan baku.

Daftar kebutuhan bahan baku menunjukkan rincian dari pengiriman penjual dan harapan penerimaan dari produk dan komponen yang dibutuhkan untuk pesanan tersebut.

  • permintaan persediaan.

Permintaan persediaan digunakan untuk menimbulkan pesanan pembelian bahan baku kepada penjual untuk item yang tidak ada dalam persediaan.
Kontrol shop floor melibatkan aktivitas penjadwalan produksi terinci, pe-ngiriman, dan biaya pekerjaan yang berhubungan dengan proses produksi sebe-narnya. Aplikasi logistik bertanggung jawab untuk memastikan pengiriman tepat waktu kepada pelanggan. Ini terdiri atas manajemen persediaan dan gudang. Kebanyakan ERP juga meliputi aktivitas pengadaannya dalam fungsi logistik.


  • Aplikasi analisis bisnis

Suatu ERP adalah lebih dari sekadar suatu sistem pemrosesan transaksi terinci. Ini merupakan suatu alat pendukung keputusan yang menyediakan manajemen dengan informasi waktu sebenarnya dan memungkinkan keputusan tepat waktu yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja dan meneapai ke-unggulan bersaing.
On-line analytical processing (OLAP) meliputi pendukung keputusan, pe-modelan, penarikan informasi, pelaporan analisis ad hoc, dan analisis bagaimana jika (what if analysis). Beberapa ERP mendukung keputusan ini dengan modul spesifik industrinya sendiri yang dapat ditambahkan pada sistem inti.
Namun aplikasi analisis bisnis yang diperoleh atau berasal dari, terpusat pada kesuksesan fungsinya, merupakan suatu gudang data. Sebuah gudang data (data warehouse) adalah sebuah database yang dibentuk untuk penearian, per-olehan kembali seeara eepat, pertanyaan khusus, dan kemudahan penggunaan. Data tersebut biasanya dikutip seeara periodik dari sebuah database operasional atau dari suatu layanan informasi publik. Sebuah sistem ERP dapat ada tanpa memiliki suatu gudang data; demikian pula, organisasi yang tidak mengimplementasikan suatu ERP mungkin menggunakan gudang data. Trendnya, bagaimanapun, bahwa organisasi yang serius dengan keunggulan akan bersaing menggunakan keduanya. Arsitektur data yang direkomendaslkan untuk suatu implementasi ERP meliputi database operasional dan gudang data terpisah.
C. KONFIGURASI SISTEM ERP

Konfigurasi Server

Kebanyakan sistem ERP berdasarkan pada model klien-server. Secara singkat, model klien-server adalah suatu bentuk dari topologi jaringan di mana kom-puter atau terminal seorang pengguna (klien) mengakses program ERP dan data me-lalui suatu komputer host yang dinamakan server. Sementara server mungkin ter-pusat, klien biasanya berlokasi pada berbagai lokasi di seluruh perusahaan. Dua arsitektur dasar terdiri atas model dua-tingkat dan model tiga-tingkat seperti di-jelaskan di bawah ini.


  • Model Dua - Tingkat (Two-Tier Model)

Dalam suatu model dua-tingkat, server menangani baik aplikasi dan kewajiban database. Komputer klien bertanggung jawab untuk menyajikan data kepada pengguna dan menyampaikan masukan (input) pengguna kembali kepada server. Beberapa penjual ERP menggunakan pendekatan ini untuk aplikasi jaringan area lokal (Local Area Network - LAN) di mana permintaan pada server dibatasi pada suatu populasi pengguna yang relatif kecil. Konfigurasi ini diilustrasikan dalam Gambar 11-3 berikut ini.
Gambar 11-3. Server Klien Dua – Tingkat





  • Model Tiga - Tingkat (Three-Tier Model)

Fungsi database dan aplikasi dipisahkan dalam model tiga-tingkat. Arsitektur ini khususnya dari sistem ERP besar yang menggunakan jaringan area luas (wide area networks--WANg) untuk konektivitas di antara pengguna. Memenuhi per-mintaan klien memerlukan dua atau lebih sambungan jaringan. Pada awalnya, klien membentuk komunikasi aengan server aplikasi. Server aplikasi tersebut ke-mudian memulai suatu hubungan kedua kepada database server.
Gambar 11-4. Server Klien Tiga – Tingkat


OLTP vs OLAP

Ketika mengimplementasikan suatu sistem ERP yang akan meliputi suatu database, suatu pembedaan yang jelas perlu dibuat antara jenis pemrosesan data yang bersaing, yaitu:

  • pemrosesan transaksi on-line.

  • pemrosesan analitikal on-line.


Kejadian Pemrosesan Transaksi On-Line (OLTP - On-Line Transaction Proces-sing) terdiri atas sejumlah besar transaksi yang relatif sederhana seperti memper-barui catatan akuntansi yang disimpan dalam beberapa tabel yang berkaitan. Misal-nya, suatu sistem pemasukan pesanan mengutip semua data yang berkaitan dengan suatu pelanggan tertentu sampai memproses suatu transaksi penjualan. Data relevan dipilih dari tabel Pelanggan, tabel Faktur, dan tabel Item Lini. Setiar tabel berisi suatu petunjuk yang dapat disimpan (yakni nomor pelanggan), yang diguna-kan untuk mengaitkan baris antara tabel berbeda. Aktivitas pemrosesan transaksi melipuli memperbarui saldo pelanggan sekarang dan menyisipkan catatan baru ke dalam tabel Faktur dan tabel Item Lini. Hubungan antara catatan dalam transaksi OLTP semacam itu biasanya cukup sederhana dan hanya sedikit catatan biasanya dikutip atau diperbarui dalam suatu transaksi tunggal.
Pemrosesan analitikal on-line (OLAP) dapat dikarakteristikkan sebagai transaksi on-line yang:

  • Mengakses jumlah data yang sangat banyak (misalnya, data penjualan beberapa tahun).

  • Menganalisis hubungan antara banyak jenis elemen bisnis seperti penjualan, produk, wilayah geografis, dan saluran pemasaran.

  • Meliputi data yang dijumlahkan (aggregated) seperti volume penjualan, dolar yang dianggarkan, dan dolar yang dibelanjakan.

  • Membandingkan data yang dijumlahkan selama periode waktu hierarkis (misalnya, bulanan, kuartalan, tahunan).

  • Menyajikan data dalam sudut pandang berbeda seperti penjualan per wilayah, penjualan oleh saluran distribusi, atau penjualan per produk

  • Meliputi penghitungan rumit antara elemen data seperti keuntungan yang di-harapkan sebagai suatu fungsi dari pendapatan penjualan untuk masing-masing jenis dari saluran penjualan dalam suatu wilayah tertentu.

  • Menanggapi dengan cepat permintaan pengguna sehingga mereka dapat menge-jar suatu proses pemikiran analitikal tanpa dirintangi oleh penundaan sistem.


Contoh dari sebuah transaksi OLAP adalah agregasi dari data penjualan per wilayah, jenis produk, dan saluran penjualan. Suatu aplikasi OLAP harus dapat mendukung analisis on­line ini dengan respons cepat.
Perbedaan antara OLAP dan OLTP dapat diringkas sebagai berikut. Aplikasi OLTP mendukung tugas misi-kritis melalui pertanyaan sederhana dari database operasional. Aplikasi OLAF mendukung tugas kritis manajemen melalui penyelidikan analitikal dari hubungan data rumit yang ditangkap dalam gudang data. OLAF dan OLTP memiliki persyaratan khusus yang berkonflik langsung. Gambar 11-5 menun-jukkan bagaimana arsitektur klien-server memungkinkan organisasi untuk meng-gunakan aplikasi terpisah dan terspesialisasi dan database server untuk menyelesai-kan kebutuhan manajemen dari data yang berkonflik ini.
  1   2   3

Share ing jaringan sosial


Similar:

Abstrak perkembangan teknologi informasi mempunyai dampak yang sangat...

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan...

Peranan sistem akuntansi bagi perusahaan kecil

Sistem informasi akuntansi

Sistem informasi akuntansi (sia)

Pengaruh partisipasi dan ketidakpastian tugas dalam pengembangan...

Manajemen Sumber Daya Manusia di Pakistan

Sistem informasi konsep Dasar Sistem

Pada era globalisasi terutama pada dunia bisnis, tenaga Ahli Madya...

Bab II sistem informasi manajemen pengertian Sistem Informasi Manajemen

Ekonomi


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
e.kabeh-ngerti.com
.. Home